Berminggu-minggu aku memanggil temanku dengan nama yang salah. Dia cuma tersenyum dan membiarkannya.
Aku memanggilnya Se-o-jun
Kami sudah saling berkirim pesan sejak sebelum aku datang ke Korea. Dia menulis namanya Seojun, jadi begitulah nama yang kutahu.
Aku membacanya seperti aku membaca tulisan apa pun. Se-o-jun. Tiga suku kata.
Waktu akhirnya kami bertemu di Korea, begitulah aku memanggilnya. Dia menjawab "ya?" setiap kali, jadi kupikir aku sudah menyebutnya dengan benar.
Beberapa minggu kemudian, teman lain memanggilnya dari sebelahku. Seo-jun. Dua suku kata.
eo bukan dua huruf — melainkan satu bunyi
Itulah inti semuanya.
Romanisasi eo bukan e yang diikuti o. Itu dua huruf alfabet yang dipinjam untuk menuliskan satu bunyi Korea, ㅓ. Alfabet Latin tidak punya huruf untuk bunyi ㅓ, jadi satu huruf saja tidak sanggup.
Sama dengan eu. Itu satu bunyi tunggal, ㅡ.
| Romanisasi | Caraku membacanya | Sebenarnya |
|---|---|---|
| Seojun | Se-o-jun (3 suku kata) | 서준 (2 suku kata) |
| Eunji | E-un-ji (3 suku kata) | 은지 (2 suku kata) |
| Seoul | Se-o-ul | 서울 |
| Jeong | Je-ong | 정 |
Kalau kamu pernah mengeja Seoul sebagai Se-o-ul, kamu sudah pernah bertemu masalah ini. Yang itu pun lama sekali kulakukan.
Belakangan aku bertanya kenapa dia tidak pernah mengoreksiku
Aku langsung mendatangi teman yang namanya kuacak-acak itu. Kenapa kamu tidak bilang apa-apa?
"Aku tahu maksudmu siapa, jadi ya nggak apa-apa."
Lalu dia tersenyum dan menambahkan bahwa dia justru senang aku berusaha menyebut namanya — kesalahannya tidak pernah mengganggunya. Dia tidak mau menegur dan membuatku merasa canggung.
Dan jujur saja, aku pun akan melakukan hal yang sama. Kalau teman yang sedang belajar bahasaku menyebut namaku sedikit salah, aku tidak akan menghentikannya setiap kali untuk membetulkan.
Jadi ini sesuatu yang sebenarnya tinggal kutanyakan. Bukan karena tidak ada yang mengoreksiku — aku saja yang tidak pernah bertanya.
Namaku sendiri pun jadi masalah
Aku juga rugi di arah sebaliknya.
Beberapa kafe meneriakkan namamu alih-alih memberimu alat penggetar. Aku minta mereka menulis namaku dalam Hangeul, tapi ejaan yang kuberikan meleset, dan yang mereka teriakkan sama sekali tidak terdengar seperti aku.
Beberapa kali aku cuma berdiri di situ, tidak sadar bahwa itu kopiku. Dua kali aku menerimanya setelah dingin.
Cerita yang sama dengan penginapan. Ejaan di pasporku dan nama di pemesananku sedikit berbeda, dan pernah sekali urusannya jadi lama sekali di meja resepsionis.
Intinya begini
"Jangan dibaca seperti bahasa Inggris" itu terlalu sederhana.
Kalau mau tepat — romanisasi itu notasi, bukan ejaan bahasa Inggris. Ia sistem yang dibangun untuk membawa bunyi Korea dalam alfabet; ia tidak mengikuti aturan pelafalan bahasa Inggris.
Jadi membacanya dengan mode otomatis bahasa Inggris hampir selalu salah. eo, eu, ae, oe — semuanya.
Begitu itu masuk akal, aku bisa membuat tebakan pertama yang lumayan untuk nama-nama yang belum pernah kulihat.
Tapi nama orang terus-terusan melanggar aturan
Satu hal yang layak diketahui di sini: ejaan nama itu hak pemiliknya.
서준 yang sama bisa ditulis Seojun, Seojoon, atau Suh Jun. Keluar dari pakem itu bukan salah — itu cuma cara orang tersebut memutuskan mengeja namanya.
Jadi aturan hanya membantu tebakan pertamamu. Cara untuk yakin adalah bertanya.
Belakangan ini, setiap kali melihat nama baru — kartu nama, pesan, apa pun — aku menyebutnya sekali dengan bersuara lalu memastikan. Ternyata memang cuma itu yang dibutuhkan.



